Linux Vserver bersemayam dalam slacky box-ku
Bismillah…
Mungkin benar pepatah mengatakan “sengsara membawa nikmat”. Berawal dari kegagalan saya memasang guest OS pada VirtualBox yang saya install di slackware 13.37 pada mesin nettop (versi kecilnya desktop, mungkin analogi dari netbook), akhirnya ngelantur ke sana-sini, tidur nggak nyenyak, kalau dihitung-hitung mungkin bisa mingguan stress yang kudapatkan. Tapi Alhamdulillah, perkara itu tidak menuntut “dateline”, jadi ya terserah saya mau selesaikan kapanpun. Konsekuensinya ya balik pada diri saya lagi, karena banyak pekerjaan yang akhirnya terbengkalai.
Berpikir, mungkin karena barang baru sehingga membutuhkan penanganan khusus, jadi saya jalan-jalan di belantara internet, dan ketemu metode virtualisasi baru. Menurut pemahaman saya, sorry kalau keliru, silahkan merujuk langsung ke sumbernya, VirtualBox, Xen, Qemu, bahkan VMWare itu melakukan virtualisasi yang bener-bener, atau gimana ya ? Bingung mem-bahasa-indonesia-kannya. Hampir semua resource divirtualkan, seperti hardisk, processor, memory, dll. Banyak keunggulan dari metode ini, silahkan cari sendiri. Tapi saya ketemu keanehan, yang membuat saya kembali bersemangat setelah berencana menyerah, sambil nunggu versi terbaru. “OpenVZ” membuka wawasan baru saya tentang bagaimana kita bisa menjalankan lebih dari satu OS dalam satu unit ‘box’ atau benyak dikatakan orang CPU.
Tertarik… coba-coba trial and error, akhirnya mentog, masalah di “kernel”. Kenapa ? Karena nettop saya membutuhkan kernel baru, karena peripheral wifinya nggak kedetect sama kernel bawaan 13.37. Sementara OpenVz tidak menyediakan patch untuk kernel terbaru. Yo wes… akhirnya nyerah, tutup lagi laptop, dan konsen lagi di urusan yang lain. Penasaran, browsing-browsing lagi, akhirnya berkenalanlah saya dengan “Linux Vserver”. Mau tau apa itu ? Baca sendiri di situsnya http://wiki.linux-vserver.org di sana banyak sekali penjelasannya dan itu membuat saya tertarik.
Wokeh… cukup intronya yang terlalu panjang, sekarang waktunya share, bagaimana sich kok bisa saya menjalankan linux vserver di slackware 13.37 ? Padahal kebanyakan yang pakai itu barang adalah tetangga sebelah yang bermain-main rpm, yum, dan deb. Slackware… seperti biasa, mungkin karena penggunanya dianggap aneh, jadi ya begitu dech, jangan harap ada instan, silahkan merujuk kepada source code
hehehe… puyeng doh loe sendiri !
Langkah pertama…
Karena seperti saya bilang tadi, bahwa saya membutuhkan kernel terbaru, maka saya pilih kernel 3.0.7, yang sudah ada patch untuk vserverhttp://vserver.13thfloor.at/Experimental/patch-3.0.7-vs2.3.1.diff . Barusan saya lihat versi 3.0.7 sudah nggak ada, tapi versi kernel 3.1.1 sudah ada yang stabil, dan patch vservernya tersedia juga, silahkan mencobanya. Yap… intinya kita harus membuat (mengcompile) kernel yang telah dipatch dengan vserver, sehingga ada fitur untuk menjalankan virtualisasi menggunakan ini barang. Langkah-langkah compile kernel, silahkan merujuk pada tulisan-tulisan sebelumnya, sama kok dengan cara yang versi 2.6.x
– Bagi yang nggak mau repot kompile, tapi masih pakai slackware 13.37 standar, Anda bisa coba kernel yang telah saya “make” menggunakan config default dari 2.6.37.6 aslinya, ditambah patch dari vserver. Itu yang saya pakai. Caranya, ambil kernel sourcenya di sini, extract di direktori /usr/src/, terserah mau ganti ln -s linux-nya atau tidak. Setelah itu masuk ke dalamnya dan lakukan perintah make modules_install. Copy image dari arch/i386/boot/bzImage ke /boot/slacky (atau nama lain suka-suka saja). Edit lilo, tambah satu blok copy saja dari yang sudah ada, ubah kernelnya pakai slacky tadi dan jangan lupa ganti namanya juga. Sudah mi eksekusi perintah lilo, dan restart, pilih OS dengan kernel terbaru tersebut.
Langkah kedua…
Setelah kita reboot dengan kernel terbaru yang sudah berfitur vserver, maka dibutuhkan tools namanya util-vserver. Saya butuh slackbuild untuk membuat paket yang sesuai dengan slackware versi saya, tapi dengan versi util-vserver yang paling mutakhir, supaya tidak banyak protes. Kalau Anda tertarik, silahkan ambil ndiri slackbuildnya ya… di sini. Trus build sendiri bisa khan ? Kalau nggak berkunjunglah ke slackbuilds.org. Sudah dapet paket, install seperti biasa, upgradepkg –install-new bla…bla…bla… tahulah agan !
Setelah itu tes, jalankan /etc/rc.d/util-vserver start dilanjutkan dengan /etc/rc.d/vprocunhide start
Kalau tidak ada pesan error berarti usaha kita berhasil, dan lanjut langkah berikutnya.
Langkah ketiga…
Kita membutuhkan skrip, untuk memudahkan membuat guest OS. Saya pilih slack_server, yang bisa kita ambil darihttp://notes.sagredo.eu/sites/notes.sagredo.eu/files/linux-vserver/slack_vserver.tar.gz. Extract, maka kita akan menemukan banyak skrip berguna di dalamnya yang sudah bisa langsung kita jalankan. Donlot paket yang diperlukan sebagai bahan langsung dari repo slackware menggunakan skrip download_slack_pkg.sh. Atau kita bisa kopi sendiri saja dari iso slackware installer ke dalam direktori slackware_pkg
Udah… ? Selanjutnya kita coba membuat satu guest dengan mengeksekusi skrip
make_slack_vserver.sh [nama_guestnya],
ikuti step-stepnya, mudah kok tinggal enter-enter doank beres. Kalau udah jadi, kita bisa mencobanya dengan perintah
vserver [nama_guestnya] start
contoh : vserver vs1 start
Kalau nggak ada pesan error, berarti udah jalan tuh.
Coba cek ke dalam dengan perintah
vserver [nama_guestnya] enter
(enter itu bukan tekan enter ya, tapi tulis baru tekan tombol enter!).
Kalau kita mendapatkan prompt bash@[nama_guestnya]:~#
Selamat usaha kita telah berhasil…
Jalankan ssh daemon sh /etc/rc.d/rc.sshd start
Langkah keempat, test akses via node lain.
Gunakan ssh saja, contoh ssh root@10.0.0.149 kalau kita masuk dalam host, berarti selamat, Anda punya masalah yang sama dengan saya. Ternyata solusinya cuman tambahkan saja opsi ListenAddress di /etc/ssh/sshd_config milik host. Contoh ListenAddress 192.168.1.254, restart kembali sshd host.
Sudah mi… harusnya semuanya normal…
Bila Anda slackers beneran, tentunya pengalaman di atas bisa Anda contoh, dan silahkan berimprovisasi sendiri. Kalau menemui kesulitan, Anda bisa kontek facebook, atau email saya. Insya Allah saya akan bantu semampu saya.
Baiklah… segitu saja sharing pengalaman saya tentang nyamannya mengelola 10 webserver dalam satu box dengan performa persis seperti aslinya. Lha memang menggunakan resource host sepenuhnya je… jadi biar sebanyak itu, larinya masih mak wus… wus… nyamannaa….
Selamat mencoba, semoga berhasil.
- denic's blog
- Login or register to post comments



Bagaimanapun juga salut buat
Bagaimanapun juga salut buat usahanya :) Genius by Birth, Slacker by choice !
Terima kasih atas komeng nya
Terima kasih atas komeng nya Pak Michael !
Vserver menarik karena bisa jadi solusi murah meriah dan cukup mudah :)